Tato Mengalihkan Duniaku

 

BALIKAPAPAN— Road show Layanan Hapus Tato yang digagas Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) dan Islamic Medical Servies (IMS) di tiga kota di Kalimantan Timur diminati ratusan peserta. Salah satunya, Dimas Fajar (21). Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Kalimantan Timur ini sengaja hadir di lokasi layanan hapus tato di  Kampus Pusat Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur, Kamis, (22/11/2018).

Kehadirannya semata-mata untuk menghapus tinta permanen yang sudah lama menempel di tubuhnya. Usai mengikuti layanan hapus tato, digeluti rasa penyesalan yang mendalam Dimas menceritakan awal mula mentato tubuhnya.

“Saya kurang kasih sayang, kedua orang tua saya guru. Mereka jarang ada waktu untuk saya. Terlebih ketika kakak saya ingin masuk sekolah polisi. Saya benar-benar terpinggirkan.” Mata Dimas berbinar, suaranya menjadi sedikit berat mengisahkan kehidupannya.

“Tato ini tempat pelarian, rumah itu serasa hotel saja. Pulang 2-3 jam lalu saya akan pergi lagi.” Diusianya yang masih belia,  saat itu Dimas bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa dari dirinya. Setiap hari ia berkumpul dengan teman-teman yang membuka jasa pembuatan tato. Kondisi inilah yang membuat dirinya berpikir untuk ikut merajah tubuhnya.

Menariknya, keinginan Dimas mentato tubuhnya sempat ditentang salah seorang seniornya yang cukup disegani diperkumpulan tersebut, khawatir Dimas akan menyesal kedepannya. Larangan itu jadi kenyataan, Dimaspun kini menyesal. Qodarulloh, jalan hidayah terlebih dulu hadir pada senior yang melarangnya bertato. Kini ia sudah beralih profesi menjadi guru ngaji.

Dimas telah menyadari kekeliruannya. Terlebih ia pun kini sudah lebih dekat dengan kedua orangtuanya yang dulu ia benci.

“Saya sudah salah sangka, ternyata orangtua saya bukan tidak punya waktu untuk saya tapi pikiran saya sendiri yang merasa demikian. Mereka ternyata sangat menyayangi saya. Ketika kakak saya sudah diterima di sekolah kepolisian setelah tiga tahun selalu gagal, seluruh waktu orang tua diberikan untuk saya.”

Dimas pun berpesan, “Jangan sekali-kali membuat tato karena tato yang melekat ditubuh bisa membuat kehilangan kepercayaan diri.” Rupanya, hal ini lah yang dirasakan Dimas.  Ia merasa minder dan malu karena tato yang ada di tubuhnya hingga segan untuk bergabung di unit kegiatan kemahasiswaan di kampusnya.

Hingga jalan hidayahpun perlahan-lahan merasuki relung hatinya. Ia pun telah mearubah pola pikrinya. Selama ini, ia merasa orang lain tidak memahami dirinya. Saat ini, Ia sadar dirinyalah yang tak memahami orang lain. Kini, Dimas telah siap menjadi manusia baru dengan segudang impian. Perlahan-lahan ia mulai menghapus tato yang telah mengalihkan dunianya sembari mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat hilang karena tato yang menempel di tubuhnya. (Redaksi)

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas