Tadabbur Surat Al Muthoffifin Ayat ke 1

Pembicara     : Ustadz DR. Amir Faishol Fath, MA.
Waktu             : Senin, 16 Oktober 2017
Tempat           : Masjid Tarqiyah Taqwa TSO HO
Acara              : Kajian Islam Intensif MTT

 

Apa yang Allah sampaikan dalam Al Qur’an pastilah benar. Dan apa-apa yang berkaikan dengan Al Qur’an akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Oleh karena itu, ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Al Qur’an dan orang-orang yang paling mulia adalah yang dekat dengan Al Qur’an. Hidup ini akan sis-sia tanpa Al-Qur’an, karena ia adalah petunjuk hidup setiap manusia. Al Qur’an dipenuhi dengan hikmah dan kebenaran, serta menjadi pembelajaran bagi manusia. Begitu juga dalam surat Al Muthoffifin yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia.

Dalam Surat Al Muthoffifin, manusia terbagi menjadi dua. Pertama adalah al-Abraar dari kata biir yaitu bermakna kebaikan. Inilah orang-orang hatinya dipenuhi dengan Allah, setiap langkahnya adalah untuk bekalnya menuju ridha Allah, masuk ke dalam surgaNya. Kedua adalah al-Fujjar dari kata fajara, yaitu orang yang berbuat dosa dan akan berada di neraka jahanam. Setiap langkah hidupnya di dunia mengikuti setan, serta dipenuhi dengan maksiat dan dosa.

Setiap manusia memang dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu dengan keislaman. Namun, orang tua atau pendidiknya lah yang akan menjadikannya Majusi atau Nashari. Ketika manusia beranjak dewasa dan beribadah kepada Allah, maka malaikat senantiasa berada di sisinya. Namun, saat dirinya mencoba perbuatan dosa atau maksiat, maka malaikat mundur satu langkah. Jika dilakukan lagi perbuatan dosa, malaikat mundur satu langkah. Dan untuk yang ketiga atau seterusnya, malaikat akan menjauh dan setan akan berada di sisi orang tersebut.

Allah menceritakan model manusia dalam pembentukannya di dunia. Ada yang mencari pahala dalam hidupnya sebagai bekal menuju surga dan ada yang mencari bekal menuju neraka. Dahulu masyarakat Jahiliyah mempunyai dua timbangan. Ketika membeli, mereka memakai timbangan yang benar. Namun ketika menjual, mereka menggunakan timbangan yang salah, sehingga timbangannya berkurang. Peristiwa ini disebut dengan attathfif, dan karena jumlah orang yang melakukannya banyak, Allah menamakan dengan Al Muthoffifin.

Kebahagiaan dan kesuksesan manusia bukanlah pada fasilitas yang dimilikinya, namun pada keputusannya untuk mengambil jalan menuju ahli surga atau ahli neraka. Keduanya sama-sama membutuhkan perjuangan, namun hasil dari keduanya sangat berbeda. Islam ini bukanlah sekedar ibadah ritual, namun Islam hadir untuk memperbaiki masyarakat, bahwa Islam adalah sistem kehidupan. Maka keberadaannya memerlukan perjuangan. Setan tidak gematar saat berhadapan dengan orang yang rajin beribadah. Namun, setan gematar saat berhadapan dengan orang-orang yang merancang untuk pembangunan ekonomi dan politik umat Islam. Kita hidup di dunia untuk menjaga apa yang menjadi titipan Allah. Bumi ini adalah titipan Allah. Maka dirikanlah dunia islam di dalamnya dengan tidak dipenuhi kemaksiatan.

Al Muthoffifin bermakna mencuri sedikit. Pada zaman Jahiliyah bentuknya adalah pengurangan timbangan, dan pada zaman sekarang adalah berbentuk korupsi. Di dunia mereka mungkin tidak bangkrut, namun saat di akhirat kelak, para koruptor itu akan bangkrut dengan diambil semua pahala kebaikannya dan dibebankan dosa orang-orang yang didzaliminya. Ketika seseorang mencuri harta haram ibarat orang yang menggunakan mobil yang diisi dengan bahan bakar yang berbeda dari yang seharusnya maka hancurlah mobil tersebut.

Ketika manusia bermain denga harta haram, maka semua pahala ibadahnya akan langsung terputus kepada Allah SWT. Seperti seseorang yang menelpon tapi disconnect padahal nomornya benar. Inilah perumpamaan orang yang shalat dengan benar tetapi mengkonsumsi harta haram. Di dunia mereka bisa menutupi kesalahan, namun tidak dengan peradilan sesungguhnya yang berada di akhirat. Setiap perbuatan dosa mereka akan dihisab dan alasan yang diberikan atau pembelaan yang dilakukan oleh seseorang yang mengambil harta haram, tidak akan berguna di akhirat kelak. Mulut akan dikunci dan organ tubuh akan menjadi saksi apa yang telah diperbuat, maka terlihatlah yang benar dan yang salah. Inilah kekuasaan Allah yang Maha Mengetahui. (Redaksi)

Share artikel ini secara DIGITAL melalui:
Fan pages FB : Majelis Ta’lim Telkomsel
Twitter: @mttelkomsel
Instagram: mt_telkomsel
Website: www.mtt.or.id

 

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas