Friday, 25 April 2014
Breaking News
Home - Materi Kajian - Perbedaan Zakat, Infaq dan Sedekah

Perbedaan Zakat, Infaq dan Sedekah

Judul pada kajian ini sederhana, yaitu apa perbedaan antara zakat, infaq dan sedekah/sodaqoh. Sebuah kajian yang lebih berkaitan dengan masalah peng-istilah-an, tetapi memang istilah yang di serap dari bahasa arab ke dalam bahasa indonesia sering kali mengalami penyimpangan makna, pergeseran arti dan juga keterpelesetan pemahaman.
Sebagai contoh sederhana pergeseran makna tersebut adalah tentang istilah kata syirik. Syirik secara baku mempunyai arti bersekutu. Maka ada istilah syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah dan sebagainya. Namun dalam pengistilahan bahasa indonesia terdapat perbedaan makna, seperti halnya dalam kalimat berikut “Kamu syirik banget sama saya”. Syirik yang demikian diartikan sebagai tanda tak mampu, senang melihat orang lain susah. Dengan demikian maka terdapat pergeseran makna yang sangat jauh dari makna yang sebenarnya.
Terdapat juga keterpelesetan makna istilah kata syirik yang lain yang juga keliru/menyimpang. Misalnya di dalam Al Quran Allah swt menyebutkan kata-kata syirik itu sebagai agama di luar Islam. Dalam surat Al-Baiyyinah ayat 1 yang berbunyi “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab wal musyrikin …” yang artinya “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik …”. Yang dimaksud orang-orang musyrik dalam ayat tersebut bukanlah orang yang pergi ke dukun atau orang yang percaya sama ramalan/zodiak, namun orang musyrik yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang yang diluar agama islam selain ahli kitab (agama Yahudi dan Kristen), yaitu Abu Lahab, Abu Jahal, penyembah berhala, penyembah api, Hindu, Budha, Konghuchu dll, yang kesemuanya disebut dengan istilah musyrikin.
Ada juga istilah yusrik billahi (Syirik kepada Allah swt). Contohnya adalah orang Islam yang datang ke dukun, orang islam percaya dengan ramalan zodiak, rumah terdapat jimat dsb yang kesemuanya adalah perbuatan syirik tetapi orang yang melakukan tidak disebut sebagai musyrikin/kafir. Kadang kadang terdapat kesalahan dalam penerapan hukumnya. Ada oarng Islam yang melakukan perbuatan syirik tetapi ada juga agama yang disebut sebagai agama syirik (diluar agama Islam dan Ahli kitab). Agama Syirik adalah agama yang tidak percaya dengan konsep-konsep seperti halnya pada agama samawi, misalnya tidak percaya dengan konsep hari kiamat, ke-nabi-an, wahyu, syariat dll.
Terkait dengan kajian tentang Zakat, Indaq dan Sedekah tedapat perbedaan yang cukup mendasar dan terkait juga dengan masalah hukumnya. Berikut uraian-nya :
INFAQ
Berasal dari akar kata Nun, Fa’ dan Khof (nafakho/unfakho). Dimana akar kata tersebut bisa memiliki banyak arti (misal nafa’/terowongan, munafik dsb). Infaq dalam istilah Al Quran banyak dipakai/digunakan. Secara istilah dalam Al Quran, unfakho/infaq memiliki arti mengeluarkan harga dan sekaligus membelanjakan-nya. Dimana dalam mengeluarkan harta tersebut belum ada kaitan-nya dengan apakah mengeluarkan harta tersebut untuk kebaikan ataukah keburukan.
Sebagai contoh, misalnya ada seorang yang mengeluarkan hartanya untuk berjudi. Maka orang tersebut telah meng-infaq-kan hartanya (karena kata infaq tidak mendefinisikan untuk perbuatan baik atau buruk, hanya sebatas memiliki arti mengeluarkan harta). Termasuk jika seorang suami memberi nafkah istri, maka suami telah ber-infaq (mengeluarkan harta). Seseorang mengeluarkan hartanya untuk berbelanja, jalan-jalan juga termasuk dalam istilah infaq secara umum.
Infaq yang berarti mengeluarkan harta di bagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah swt)
Secara sederhana infaq yang dikeluarkan untuk bertaqarrub dapat diartikan untuk urusan ibadah, untuk urusan fisabilillah, untuk sesuatu yang mengharapkan pahala Allah swt. Dimana Infaq yang tujuan-nya untuk bertaqarrub kepada Allah swt dibedakan menjadi 2, yaitu :
* Sifatnya wajib. Contohnya : Zakat.
Zakat berarti mengeluarkan harta dalam rangka bertaqarrub kepada Allah swt dan hukumnya wajib. Jika tidak dikeluarkan akan berdosa. Zakat juga merupakan bagian dari infaq. Zakat juga bagian dari sodaqah/sedekah karena secara umum sodaqah juga dilakukan dalam rangka ber-taqarrub kepada Allah swt. Karena hukumnya zakat adalah wajib, apabila tidak dikeluarkan maka akan berdosa, bahkan bisa dianggap telah meninggalkan salah satu rukun islam.
Jika seseorang meyakini bahwa zakat tidak wajib maka sesungguhnya orang tersebut keluar dari agama islam (murtad). Tetapi jika seseorang meyakini dan tidak menunaikan zakat maka orang tersebut wajib diperangi[1]. Jika seseorang menyakini bahwa zakat adalah wajib namun tidak mau menunaikan-nya, maka negara berhak menyita seluruh hartanya dan orang tersebut harus membayar 50% dari zakat yang musti dia tunaikan.
Di jaman Rasulullah saw, zakat bukanlah sekedar kesadaran individu untuk menunaikan-nya (seperti kondisi sekarang), namun lebih dari itu bahwa zakat adalah sebuah sistem. Dalam menunaikan zakat harus terdapat juga akad penyerahan dan penerimaan zakat (wajib ada-nya ijab kabul). Jika tidak wajib zakat namun tetap mengeluarkan harta-nya maka dianggap sebagai sodaqah/sunnah.
* Contoh lain yang sifatnya wajib adalah Nadzar. Dalam pengertian sempit nadzar berarti janji kepada Allah swt. Dalam pengertian syara’, nadzar adalah berjanji akan melakukan sesuatu jika yang dicita-citakan tercapai.
Kriteria harta yang wajib zakat :
1. Harta tersebut dimiliki secara sempurna.
Harta yang tidak dimiliki secara sempurna tidak wajib zakat. Misal harta wakaf atau aset milik negara tidak wajib zakat, karena status kepemilikan harta wakaf beralih dari milik individu menjadi milik Allah swt.
Contoh :
  • Pada sebuah rumah kontrakan misalanya. Dimana yang wajib membayar zakat adalah orang yang memiliki rumah kontrakan tersebut, bukan yang mengontrak rumah.
  • Si A meminjamkan uang 10jt kepada si B. Ketika sudah mulai wajib zakat maka yang mengeluarkan zakat adalah si A (terlepas dari uang 10jt yg digunakan oleh si B untung atau rugi jika digunakan modal usaha). Sedangkan si B tidak wajib zakat atas uang senilai 10jt tersebut. Namun jika uang 10jt tersebut digunakan modal usaha dan akhirnya usaha si B bangkrut, sedangkan uang 10jt yang di pinjam tidak bisa dipastikan apakah bisa dikembalikan kepada si A, maka si A tidak wajib zakit atas uang 10jt tersebut (karena harta uang 10jt sudah bisa dipastikan tidak dimiliki lagi secara sempurna).

2. Harta tidak produktif dan bukan emas/uang (misal tanah/lahan kosong) tidak wajib zakat.

Emas dimasa Rasulullah saw berfungsi sebagai perhiasan dan juga sebagai alat tukar. Jika perhiasan emas digunakan/dipakai maka tidak ada kewajiban zakat. Namun jika emas sebagai alat tukar wajib dikenakan zakat. Dengan syarat minimal, emas tersebut sudah dimiliki selama 1 tahun (tahun qomariah) dengan jumlah total minimal 85 gram.
Contoh :
  • Di awal tahun, emas yang dimiliki oleh di X adalah 100 gram (sudah masuk kriteria wajib zakat). Selama 1tahun, emas-nya bertambah menjadi total 500 gram. Maka yang wajib di zakat-i adalah 500 gram (bukan 100gram)[2].
  • Sebuah tahan kosong yang tidak memberikan hasil bagi pemiliknya, maka tanah tersebut tidak dikenakan zakat. Karena lahan kosong tersebut tidak produktif. Berbeda halnya jika sebuah bajaj (kendaraan umum roda tiga) yang tiap harinya berputar-putar mencari setoran, maka bajaj tersebut wajib dikeluarkan zakat.
3. Melebihi nishab/batas minimal.
Dibawah nishab tidak wajib dikeluarkan zakat, sedangkan sebaliknya diatas nishab wajib dikeluarkan zakat. Antara harta yang satu dengan yang lain berbeda nilai nishab-nya.
Contoh :
  • Nishab untuk pertanian adalah sejumlah 520kg. Jika 1kg nya senilai dengan Rp. 5.000,00 maka jika hasil dari pertanian menghasilan uang senilai minimal Rp 2.600.00,- (520 kg x Rp 5.000,-), maka wajib dikeluarkan zakatnya.
  • Nishab untuk harta emas yang disimpan adalah sejumlah 85 gram. Jika 1 gram nya senilai dengan Rp. 350.000,00 maka jika emas dinilai dengan uang yaitu senilai minimal Rp 29.750.000,- (85 gram x Rp 350.000,-), maka wajib dikeluarkan zakatnya.
4. Melewati haul (harta setelah dimiliki 1 tahun)
Harga yang sudah masuk nishab baru akan dikeluarkan zakatnya 1 tahun kemudian (bukan diawal kepemilikan harta tersebut). Terdapat juga beberapa ijtihat-ijtihat yang dinilai terlalu berani dalam mengeluarkan fatwa/aturan. Ketentuan tersebut misalnya, jika membeli mobil harus zakat, jika menjual mobil pun harus mengeluarkan zakat juga. Padahal tidak demikian ketentuan-nya.
Jika seseorang membeli mobil untuk dirinya sendiri dan bukan untuk dijual maka tidak wajib mengeluarkan zakat. Demikian halnya jika ternyata mobil tersebut dijual kembali. Namun jika pekerjaannya adalah jual-beli mobil, maka wajib zakat (Misalnya Makelar mobil, maka wajib zakat). Contoh lain, jika membeli mobil, kemudian seminggu kemudian ada yang berkeinginan membeli  mobil tersebut dan di juallah mobil itu, maka tidak wajib zakat (meskipun dari jual-beli mobil tersebut terdapat keuntungan). Karena pada awal pembelian mobil tersebut diniatkan untuk digunakan sendiri.
5. Zakat tidak perlu dikeluarkan jika orang tersebut masih miskin dan hajat dasarnya belum terpenuhi (meskipun gajinya besar).
Besar kecilnya penghasilan seseorang tidak bisa menentukan apakah orang tersebut wajib mengeluarkan zakat atau tidak, tergantung dari terpenuhi atau tidaknya hajat dasarnya. Hajat hidup orang kaya dengan orang miskin sama saja. Hajat hidup adalah kebutuhan paling dasar/minimal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Hajat hidup tentunya berbeda dengan gaya hidup.
Contoh :
  • Seorang karyawan bekerja dengan penghasilan 5juta/bulan. Jika karyawan tersebut masih bujang (belum ada suami/istri, anak) sedangkan rumah dan segala kebutuhan-nya masih dipenuhi oleh orang tua maka penghasilan-nya tersebut tentunya lebih dari hajat hidupnya, sehingga wajib zakat. Berbeda jika karyawan tersebut memiliki tanggungan istri, kebutuhan beberapa anak-nya atau bahkan menanggung juga orang tuanya, yang dengan uang sejumlah 5juta akan habis atau bahkan kurang maka orang tersebut tidak wajib zakat.
6. Selamat dari hutang. Orang yang tidak selamat dari hutang tidak wajib zakat. Hutang dalam pengertiannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup-nya sehari-hari[3]. Jika masih terdapat hutang maka diprioritaskan untuk membayar hutang dulu kemudian baru membayar zakat.
* Sifatnya sunnah. Contohnya Sedekah
Dimana jika dilakukan akan mendapatkan pahala, namun jika ditinggalkan tidaklah berdosa. Pahala di sisi Allah swt tentunya banyak, bisa berupa dimurahkan rezekinya, dikabulkan doa’anya dll. Sehingga dalam pengertiannya dapat berupa mengeluarkan harta kepada fakir mislin dll, yang bukan bersifat wajib, yang tidak ada aturan nisab, haul dsb.
2. Bersifat Umum
Contoh yang bersifat umum adalah memberi nafkah kepada anak, istri. Sebenarnya memberi nafkah hukumnya wajib juga. Karena setiap orang akan otomatis melakukan-nya, maka memberi nafkah dikelompokkan dalam kategori umum. Jika memberi nafkah diniatkan untuk bertaqarrub maka sebenarnya kedudukan-nya akan sejajar dengan zakat, bahkan bisa lebih tinggi dari zakat. Karena orang yang belum berkecukupan, belum mampu membiaya dirinya sendiri, anak dan istrinya maka tidak diwajibkan mengeluarkan zakat. Zakat dikeluarkan jika nafkahnya sudah cukup.
[spoiler effect="slide" show="Tanya Jawab" hide="Tutup - Tanya Jawab"] T : Seorang karyawan yang penghasilannya telah masuk nishab zakat, dia mengeluarkan zakat dari penghasilannya berupa zakat profesi (ketika ada penghasilan akan langsung dipotong zakat). Penghasilan setelah dipotong zakat dan segala kebutuhan hidupnya masih terdapat tabungan yang juga telah masuk nishab zakat (85gram emas). Apakah karyawan tersebut mengeluarkan zakat dua kali (penghasilan/zakat profesi dan simpanan) ?
J : Jawabannya adalah seperti ilustrasi berikut. Seorang petani panen dari hasil pertaniannya berton-ton yang tentunya kemudian wajib mengeluarkan zakat (lebih dari 520kg). Hasil panen di jual kemudian dibelikan emas dan tidak dipakai (lebih dari 85gram). Maka emas tersebut wajib zakat dan dikeluarkan setelah 1 tahun disimpan.[4]
T : Sebuah asuransi yang juga memiliki nilai investasi apakah juga wajib dikeluarkan zakatnya ?
J : Jika kepemilikan asuransi dan investasinya bisa dikeluarkan sewaktu-waktu (kapan-pun dibutuhkan bisa diambil/tidak terikat batas waktu) maka wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah masuk nishab. Karena asuransi/investasi yang demikian kepemilikan sempurna oleh pemegang asuransi. Namun jika asuransi/investasi tersebut hanya bisa dikeluarkan beberapa tahun kemudian (jika sudah pensiun dll) maka tidak wajib zakat, karena sifat kepemilikannya tidak sempurna. Ketika pada suatu waktu nilai investasi sudah keluar (misal 100juta) maka tidak serta merta langsung di zakati, tunggu dulu sampai haul 1 tahun kedepan.[/spoiler]

Sumber: http://kajiankantor.com

Catatan Kaki :

  1. Pada jaman pemerintaha Abu Bakar terdapat pasukan khusus yang memerangi orang yang tidak mau membayar zakat, bahkan difatwakan halal darahnya dan disita seluruh harta bendanya []
  2. Selama periode 1 tahun jika terjadi pengurangan atau penambahan jumlah emas tidak diperhatikan. Yang diperhatikan untuk menentukan nilai-nya adalah ketika harta emas sudah masuk nilai minimal 85gram dan akhir 1 tahun []
  3. Bukannya hutang KPR, kepemilikan mobil atau para pengusaha yang memiliki hutang dibeberapa bank. Sehingga yang demikian tidak semerta-merta tidak wajib zakat []
  4. Zakat profesi terdapat perbedaan pendapat, antara yang wajib zakat profesi. []

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas

Leave a Reply

Selamat Datang di Website MTT : Majelis Ta'lim Telkomsel

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas.

MTT Link Portal :

  • MTT TV (http://tv.mtt.or.id)
  • MTT UPZ (http://upz.mtt.or.id)
  • MTT Foto (http://foto.mtt.or.id)
  • MTT Blog (http://blog.mtt.or.id)
Close this popup

Video Profil MTT