Pendidikan Kesabaran

Kebahagiaan dan kesengsaraan atau sehat dan sakit merupakan ujian dari Allah SWT. Melalui ujian ini, Allah hendak membuktikan siapa di antara hamba-Nya yang lulus ujian dengan predikat iman yang sempurna (QS Almulk [67]: 2).

Kisah para nabi adalah realitas hidup yang mahaberat. Nabi Ayyub AS, misalnya, mendapat ujian berat berupa penyakit kulit. Sedemikian parahnya penyakit itu hingga berulat, sampai istrinya sendiri meninggalkannya karena jijik. Bertahun-tahun lamanya ia hidup menderita, namun tak sedikit pun mengurangi keimanannya kepada Allah.

Bentuk ujian lain dialami Nabi Sulaiman AS. Beliau diuji dengan kenikmatan yang melimpah ruah. Beliau mengerti bahasa burung, memahami gerak-gerik semut, serta mampu mengerahkan balatentara jin dan manusia untuk membangun kekuasaan dan istananya (QS Alnaml [27]: 16-18). Tapi, beliau tetap ingat kepada Allah dengan mengakui, ”Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari akan (nikmat-Nya).” (QS Alnaml [27]: 40).

Keimanan dan ketakwaan para nabi yang demikian sempurna merupakan teladan hingga diwasiatkan oleh Alquran dengan pernyataan tulus, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un: (Sungguh, kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali). Ungkapan dan sikap tulus seperti ini hendaknya tidak hanya kita ucapkan tatkala terkena musibah, melainkan juga saat menerima kenikmatan dan amanah.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Umar ibn Abdul Aziz ketika diangkat menjadi khalifah adalah Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sebuah pernyataan sikap bahwa amanah itu berasal dari Allah dan harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.

Dengan demikian, setiap ujian bagi Mukmin merupakan pendidikan kesabaran, sekaligus pendidikan kesyukuran. Sabda Nabi SAW, ”Sangat mengagumkan keadaan seorang Mukmin. Sebab, segala keadaan baginya menjadi kebaikan dan tidak akan terjadi hal seperti itu, kecuali bagi seorang Mukmin. Jika mendapat kenikmatan, ia bersyukur, bersyukur itu lebih baik baginya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar, kesabaran itu lebih baik baginya.” (HR Muslim).

Semakin arif dan sabar seorang Mukmin menghadapi ujian, semakin tinggi pula kualitas keimanannya. Dan, semakin tinggi keimanannya, semakin tinggi pula ujian yang akan diberikan padanya.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan, sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka, sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut [29]: 2-3).

Sumber: republika.co.id

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas

Leave a Reply