Klinik Keluarga Gaza: Kami tidak Pernah Menutup Pintu untuk Siapapun

REPUBLIKA.CO.ID,  Semuanya berawal ketika Mohamad Abu Moghasib dan sang istri memutuskan untuk mengabdikan diri kepada tetangga mereka di desa Wadi Salqa, sebuah desa miskin di wilayah Gaza. Pasangan suami istri ini adalah ahli farmasi yang pernah bekerja di sebuah klinik di Arab Saudi. Setelah beberapa tahun mengabdi di luar negeri, berbekal pengetahuan dan keahlian yang dimiliki, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Pada tahun 2003, sebuah ruangan di rumah mereka disulap menjadi klinik yang digunakan untuk memberikan pelayanan bagi para tetangga. Kini, lebih satu dekade sudah, klinik ini beroperasi. Mereka memberikan berbagai pelayanan bagi masyarakat miskin di desa Wadi Salqa.

“Kami menerima berbagai pasien dalam kondisi yang menyedihkan sepanjang siang dan malam,” ungkap Mohamed, yang lebih dikenal dengan sapaan Abu Hossam.

“Pintu rumah kami tidak pernah tertutup untuk siapapun. Klinik kami beroperasi 24 jam dan memiliki pasian yang tak terhitung jumlahnya.”

Mohamed dan istrinya, Ummu Hossam adalah sosok yang sangat dikenal dan dicintai di desanya. Mereka senantiasa menyambut tetangga yang menaruh kepercayaan pada klinik mereka. “Dalam situasi darurat, kami memberikan pertolongan dan pengobatan awal. Untuk ke klinik yang lain, penduduk desa harus menempuh perjalanan hampir satu jam,” ungkap Ummu Hossam.
Saat melayani pasien

Dedikasi terus berjalan dalam keluarga mereka. Ummu Hossam tersenyum saat bercerita mengenai sejarah namanya, Mazuuza, berarti “yang dihargai”. Dia adalah bungsu dari tujuh bersaudara, yang semuanya adalah perempuan. Ayahnya memilih nama ini untuk menghilangkan stigma bahwa anak laki-laki selalu lebih dari anak perempuan. “Ayah mewariskan keberanian dan ketekunan kepadaku,” kenangnya.

Bukan hanya manusia, terkadang mereka pun mengobati binatang. Ummu Hossam mengenang saat suatu hari seseorang datang meminta pertolongan sembari menangis. Ternyata kaki kambingnya terluka. “Kami mengobati dan membalut kaki sang kambing yang patah dengan kain kasa dan perban,” kisah Ummu Hossam.

Saat musim dingin, pasangan ini mengumpulkan pakain hangat serupa mantel, topi dan sarung tangan. Setelah membersihkan dan menyeterika barang-barang tersebut, mereka pun mebagiaknnya kepada keluarga yang membutuhkan, yang harus berjuang melawan udara dingin di Gaza.

Seperti di tempat lain saat musim dingin, di Wadi Salqa, angin dan udara membawa kuman penyakit. Biasanya anak-anak yang yang paling rentan merasakan dampak dari semua ini. Sebuah kisah datang dari Madline dan putrinya, Lama (8 tahun) yang datang ke klinik mereka.

Sebelumnya, Lama tak bisa tidur saat malam hari. Anak itu demam, lendir dari hidungnya terus mengalir, suaranya serak karena batuk dan amandelnya yang meradang. Setelah diperiksa, gadis kecil itu diberikan antibiotik untuk membantunya sembuh.

Antibiotik ini akan mencegah infeksi akibat bakteri. Mengobati infeksi, mulai dari telinga hingga saluran kencing.” Infeksi seperti ini kerap terjadi di Wadi Salqa. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terjangkit kuman. Dengan rendahnya suhu udara, kami melihat banyak terjadi kasus seperti yang dialami Lama,” kata Abu Hossam.

Sebelum Madline kembali ke rumahnya di perkebunan zaitun dan jeruk, Abu Hossam menjelaskan bagaimana menggunakan obat dengan benar.

“Orang tua dari desa, seperti itulah kami menyebutnya,” kata Madline sembari menggenggam tangan putrinya.

“Saya berharap kondisi putri saya bisa membaik, agar ia bisa kembali bermain dan bergembira bersama adik-adiknya.”

Sumber: republika.co.id
Foto ilustrasi: republika.co.id

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas