Antara Amanat dan Khianat

Tema yang akan dibicarakan adalah tentang seorang muslim yang bersikap amanah dan tidak boleh khianat. Belakangan mungkin banyak kita dengar tentang orang yang tidak amanah maupun orang yang berlaku berkhianat, baik berkhianat kepada teman, berkhianat kepada pimpinan, pimpinan berkhianat kepada bawahan-nya, suami berkhianat kepada istri atau sebaliknya. Diharapkan dari kajian berikut kita bisa lebih amanah dan tidak berlaku khianat. Mari kita simak beberapa kisah-nya.
Kisah 1 :
Anas ra berkata bahwa Nabi SAW bersama Mua’adz pada suatu ketika bersama-sama menaiki satu kendaraan/unta. Kemudian Nabi SAW bersabda “Hai Mu’az” kemudian Mu’az menjawab “Labbaik, Ya Rasulullah wa sa’daik” ((ini adalah kata-kata mengiyakan bagi orang arab yang sangat sopan)) Panggilan Nabi SAW dan jawaban Mu’az serupa terulang sampai tiga kali. Selanjutnya Nabi SAW bersabda “Tiada seorang hamba pun yang menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dengan penuh keyakinan dalam hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan orang itu masuk neraka”. Kemudian Mu’az berniat/berkeinginan mengabarkan sabda Nabi SAW kepada seluruh manusia. Selanjutnya Nabi SAW menjawab “kalau itu diberitahukan, nanti orang akan (malas beramal) hanya tawakkal saja (merasa akan selamat dengan ucapan syahadat belaka dan yang sedemikian tentulah salah jadinya)”. Oleh karena Mu’az merahasikan amanat Nabi SAW tersebut dan menyampaikan hadist tersebut sewaktu hendak wafat karena Muaz takut berdosa ((Perkataan Anas ra : Ta’atstsuman yaitu takut berdosa karena menyembunyikan ilmu))

Dalam Surat Al Baqarah 159 Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turnkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ditanya tentang sebuah ilmu lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikat mulutnya dengan tali kekang dari api Neraka pada hari kiamat”. -Shahih, HR Abu Dawud-

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Umar r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyembunyikan ilmu, maka Allah akan mengikat mulutnya dengan tali kekang dari api Neraka pada hari Kiamat,” -Hasan, HR Ibnu Hibban-.

Dari kisah diatas dapat dimengerti bahwa Mu’az berpikiran sabda Nabi SAW tentang umat muslim yang sudah bersyahadat sudah mendapatkan tiket/kepastian untuk masuk surga adalah merupakan kabar gembira dan berkeinginan menyampaikan sabda tersebut kepada seluruh manusia. Namun Nabi SAW melarang-nya karena dikhawatirkan sabda tersebut menjadikan umat-nya malas beramal dengan cukup hanya bertawakkal saja. Hingga menjelang ajal Mu’az merahasiakan sabda tersebut sampai akhirnya dia takut dosa karena merahasiakan sebuah ilmu maka Mu’az mengabarkan sabda tersebut kepada umat yang lain.

Ada kalanya orang tidak bisa menjaga rahasia, termasuk dosa besar adalah ketika seorang suami/istri menceritakan hubungan seksual-nya dengan istri/suaminya ((“Sungguh, orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari kiamat nanti, adalah orang yang membuka (aurat) istrinya dan istrinya membuka (aurat)nya, lalu ia menyebarkannya”. (HR. Muslim:1437) Imam Nawawi mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya menyebarkan cerita hubungan suami istri, dan merinci apa yang terjadi pada istrinya, seperti ucapan, perbuatan dan semisalnya.”))

Kisah 2 :
Jika Seseorang bendahara muslim yang dipercaya untuk menyampaikan hak harta kepada orang lain, kemudian orang tersebut memberikan harta yang disimpannya dengan benar/lengkap dan cukup serta menyampaikannya dengan baik/tidak kesal, maka orang tersebut dicatat sebagai salah seorang dari dua orang yang bersedekah (bendahara dan pemilik harta).

Jika hadist tersebut dicerminkan dalam keseharian kita, maka adakalaya seseorang mendapatkan titipan harta dari sedekah orang lain, namun dia merasa berhak juga mengurangi dari sebagian harta/sedekah tersebut. Hal ini tidak diperbolehkan. Dimana jika orang yang dipercaya tersebut menyampaikan harta/sedekah yang dititipan kepadanya sesuai dan tidak dikurang-kurangkan maka orang tersebut mendapatkan pahala seprti halnya orang yang memberikan sedekah.

Para Pemimpin !!! Bersikaplah Amanah, Jangan Berkhianat
Pengkhianatan terbesar menurut Nabi SAW adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, pengkhianatan yang dilakukan suami kepada istri atau sebaliknya, pengkhianatan anak kepada orangtua dll. Sesuai dengan hadist berikut :

Hadist 1 :
Nabi SAW Bersabda “Setiap pengkhianat memiliki bendera pada bagian belakangnya pada hari khiamat nanti, yang akan ditinggikan (bendera tersebut) sesuai dengan kadar pengkhianatannya yang dilakukan. Ingatlah, tiada pengkhianatan yang melebihi pengkhianatan oleh para pemimpin masyarakat” (HR. Muslim)

Dari hadist diatas dapat dimengerti bahwa pengkhianatan terbesar adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, terutama pemimpin masyarakat. Karena jika pemimpan rusak/salah dalam memimpin maka semua juga akan rusak dan berdampak luas.

Hadist 2 :
Abu Dzar berkata “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menjadikanku sebagai pegawai (yang memegang satu jabatan)?” Kemudian Beliau menepuk pundakku dan bersabda “Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini seorang yang lemah dan jabatan itu amanah. Pada Hari Kiamat nanti, jabatan itu menjadi kehinaan serta penyesalan, kecuali bagi orang yang melaksanakannya secara benar dan menunaikan semua kewajibannya” (HR Muslim)

Hadist 3 :
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman,Ada tiga kelompok manusia yang akan menjadi musuh-Ku pada hari Kiamat nanti. Seorang yang diberi amanah kepemimpinan, lalu berkhianat, seorang yang menjual orang yang merdeka dan memakan hasil penjualannya, seorang yang mempekerjakan seorang buruh. namun saat buruh itu meminta haknya, maka dia menolak memberikan upahnya” (HR Bukhari)

Hadist 4 :
Dari Abu Khalid Hakim bin Hizam ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, “penjual dan pembeli sama-sama memiliki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah (khiyar majlis). Jika keduanya jujur (amanah) menjelaskan kelebihan dan kekurangan barang yang dijual, maka keduanya akan diberikan keberkahan. namun, jika keduanya dusta dan tidak amanah, maka Allah menghilangkan keberkahan pada transaksi yang mereka lakukan”

Dalam fiqih Islam ada yang namanya bab Khiyar ((Bab khiyar bisa juga dibaca disini)), yang artinya adalah penjual dan pembeli berhak membatalkan atau melanjutkan transaksi jual-beli. Hak ini dimiliki oleh penjual maupun oleh pembeli.
Khiyar dibedakan menjadi 3 :

  1. Khiyar Majlis, yaitu kebebasan memilih bagi pihak penjul dan pembeli untuk melangsungkan jual beli atau membatalkannya selama masih ditempat jual beli. Apabila kedua belah pihk telah terpisah dari majlis maka hilanglah hak khiyar sehingga perubahan dalam jual beli itu tidak bisa dilakukan lagi. Dalam proses jual-beli, ada kalanya terdapat tanda bukti pembelian yang biasanya terdapat keterangan “Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan”. Hal ini tidak dibenarkan karena bertentangan dengan hak fiqih islam. Terkecuali jika keterangan tersebut ditambahkan kata sehingga mungkin menjadi “Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan, kecuali ada perjanjian”. Hal ini mengingat masing-masing penjual dan pembeli memiliki hak untuk membatalkan atau melanjutkan jual-beli dan dikhawatirkan juga terjadi-nya penipuan.
  2. Khiyar aibi, yaitu kebebasan memilih untuk melangsungkan akad jual beli atau membatalkannya bilamana pada barang terdapat cacat. Bagi pembeli apabila ada cacat pada barang yang dibelinya, ia dapat mengembalikan barang tersebut dengan meminta ganti barang yang baik. Mengembalikan barang yang cacat itu hendaknya dengan segera karena melalaikan hal ini berarti rela kepada barang yang cacat, kecuali sebab ada halangan.
  3. Khiyar Syarat, yaitu khiyar yang dijadikan syarat pada waktu akad jual beli, artinya pembeli atau penjual memilih antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan dalam satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan itu tiba , maka jual beli itu harus segera ditegaskan, antara diteruskan atau diurungkan. Khiyar syarat paling lama tiga hari dan berlaku pada segala macam jual beli.

Belakangan di masyarakat kita banyak sekali muncul para penjual makanan yang tidak amanah. Mereka dengan sengaja menambahkan bahan-bahan yang tidak halal pada makanan yang mereka jual. Kenapa orang-orang tersebut tidak amanah, bisa jadi karena pemimpin-nya yang tidak amanah. Dan Rasulullah SAW pun menegaskan dalam sabdanya bahwa Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan oleh pemimpin.

[spoiler effect=”slide” show=”Materi Kajian” hide=”Tutup”]

[/spoiler]

[spoiler effect=”slide” show=”Tanya Jawab” hide=”Tutup – Tanya Jawab”]
T : Apakah masih bisa diharapkan pemimpin yang amanah di negeri ini ?
J : Ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa “bagaimana kondisi kalian, maka itulah kondisi pemimpin kalian”. Pemimpin pada sebuah komunitas menggambarkan yang dipimpin. Jika pemimpin kita adalah ahli maksiat, maka demikian juga dengan rakyat-nya dan sebaliknya. Karena pada kenyataan-nya kitalah yang memilih sendiri pemimpin kita. Maka solisinya yang pertama adalah dengan memperbaiki kondisi masyarakat secara individu. Mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat dan seterusnya.[/spoiler]

Sumber: http://kajiankantor.com

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas

Related posts