Menyayangi Semua Makhluk


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah SAW bersabda; ”Orang-orang yang berbelas kasih akan mendapatkan belas kasih dari (Allah) Yang Maha Pengasih. Karena itu, berbelaskasihlah kepada setiap makhluk di bumi, niscaya ‘penduduk langit’ akan mengasihimu.”

Manusia sebagai makhluk yang mulia sudah seharusnya menunjukkan kasih sayangnya kepada seluruh makhluk ciptaan Allah. Tak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk lainnya, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, juga lingkungan.

Atas dasar inilah, khalifah Islam yang kedua, Amirul Mukminin Umar bin Khattab, mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Salah satu kisah menakjubkan yang ditunjukkan Umar adalah seperti dikisahkan dalam kitab Mawa’izh al-Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri.

Suatu hari, Khalifah Umar berjalan-jalan di Kota Madinah. Istilah sekarang, blusukan. Hal itu dilakukannya untuk mengetahui kondisi dan keadaan umat Islam yang dipimpinnya.

Saat berjalan-jalan menyusuri gang-gang kecil di Kota Madinah, Umar menyaksikan seorang seorang anak kecil sedang bermain-main dengan seekor burung. Anak kecil itu mempermainkannya sesuka hati. Tak jarang, burung itu dicekik. Karena itu, timbullah rasa iba dari Umar bin Khattab.

Umar tak tega melihat burung yang kecil itu dipermainkan. Ia lalu mendekati anak-anak itu kemudian meminta burung itu. “Wahai anakku, maukah engkau melepaskan atau menjual burung itu kepadaku?” kata Umar. Mendengar Umar akan membelinya, anak kecil itu pun gembira. “Baiklah tuan, silakan.” Anak kecil itu kegirangan.

Setelah mendapatkan burung pipit itu, Umar lalu mengelus-elus bulu halus si burung pipit. Tujuannya, tentu saja agar burung itu merasa nyaman dan tenang. Umar ingin menunjukkan bahwa dirinya akan memperlakukan burung itu dengan sebaik-baiknya.

Setelah dirasa cukup tenang maka Umar langsung melepaskan burung pipit itu ke angkasa. Dan, burung pipit itu terbang bebas.

Ketika Umar wafat, salah seorang ulama terkemuka menyaksikan Umar dalam mimpi. Ia pun bertanya, “Apa kabar, wahai Umar? Apa yang telah Allah perbuat atasmu?”

Dalam mimpi sang ulama itu, Umar berkata bahwa dirinya telah mendapatkan ampunan dari Allah. “Allah telah mengampuniku dan melewatkan (tidak dicatat) segala dosaku.”

Sang ulama pun penasaran. “Apa sebabnya? Apakah karena kedermawananmu, keadilanmu, atau karena zuhudmu yang membuatmu acuh tak acuh terhadap dunia?” tanya si ulama.

Umar menggelengkan kepala. “Ketika kalian menguburkanku, menutupiku dengan tanah, dan meninggalkanku sendiri, tiba-tiba datang dua malaikat yang sangat menakutkan. Akalku pun terasa hilang, seluruh sendi-sendi tulangku terasa gemetar.”

Umar melanjutkan; “Kedua malaikat itu mengambilku dan mendudukkanku dan hendak menanyaiku. Tapi, tiba-tiba, muncul suara tanpa sosok untuk mencegah keduanya.”

“Tinggalkan hamba-Ku ini. Jangan kalian takut-takuti. Aku menyayanginya dan segala dosanya telah kuampuni karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia. Karena itu, Kusayangi dia di akhirat.”

Kisah inilah yang tampaknya mengilhami Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri untuk menamakan kitabnya ini dengan nama Mawa’izh al-Ushfuriyyah (Pelajaran dari Burung Pipit). Kisah serupa juga terdapat dalam kitab Aqthaf ad-Daniyyah.

Sumber: republika.co.id

About adminmtt

Majelis Ta'lim Telkomsel adalah organisasi yang berasaskan Islam dan mewujudkan insan Telkomsel yang bertakwa, amanah, profesional, berakhlaq mulia serta mampu menyebarkan karakter tersebut baik di lingkungan Telkomsel maupun di lingkungan lainnya yang lebih luas

Leave a Reply